Tulisan ini sekedar dokumentasi atau catatan perjalanan selama weekend di Jogja. Catatannya tidak terlalu detail karena biasanya aku menyertakan foto dan kemudian bercerita. Berhubung kamera hp-ku sudah out of date dan males bawa kamera DLSR jadi aku mengandalkan hasil jepretan hp-nya mas Tras.
Perjalanan dimulai di hari Sabtu tgl 27 pagi jam 05.15 . Aku dan mas Tras meluncur ke arah Lenteng Agung, ke rumah mas Edi (kakaknya suamiku). Dari Lenteng Agung kami meluncur ke Ketapang, untuk menjemput Nik (adiknya suami) dan suaminya dan mas Basuki (kakaknya suami).
Lupa detailnya seperti apa, tapi yang jelas kami sempat berhenti selama 3 kali, 2 kali untuk isi bensin dan yang ke-3 untuk makan. Menurut timeline-ku sih kami berhenti di rest area KM 465. Disitu aku ngebakso dan tergiur dengan lunpia Semarang, jadi deh beli 1 lunpia Semarang, tombo kepingin :)

Rute selanjutnya kami langsung menuju Jogja, keluar di pintu tol Colomadu (aku jadi inget tahun yang lalu pernah ke pabrik gula Colomadu yang diubah sebagai tempat tujuan wisata). Menuju ke komplek pemakaman Pracimalaya Kuncen, dimana di situ dimakamkan bapaknya mbak Dewi (istrinya mas Edi) dan rupanya disitu juga dimakamkan HOS Tjokroaminoto. Kami sudah sampai di sini jam 5 sore (lagi-lagi aku melihat di list timeline google-ku) dan setelah itu langsung meluncur ke Bakmi Kadin. Meski belum jam makan malam, dan tadi makan siangnya terlambat, mbak Dewi sengaja menyusun acara ini karena beberapa alasan. Pertama kalau mau makan disini nunggu masak-nya lumayan lama. Kedua hari itu malam minggu dan biasanya kalau malam minggu pasti tempat makan pada rame. Nah berhubung kami ini masih taat dengan prokes jadi sebelum maghrib kami sudah nongkrong di Bakmi Kadin.
Kalau biasanya perutku kembung kalau makan mie instan, alhamdulillah kalau makan ini 1 piring habis tak bersisa dan gak kembung.
Trus kalau biasanya aku pilih mie goreng, khusus untuk mie ini aku pilih yang rebus/godog karena menurutku lebih sedep. Dan yang aku suka, meskipun mie rebus tapi tekstur mie-nya tidak berubah seiring waktu. Tetap enak untuk dikunyah. Biasanya aku menghindari mie rebus karena mie rebus yang aku kenal mie-nya akan "mekar" kalau terendam kuah, jadi kurang nikmat lagi untuk disantap.
Menunggu sepiring bakmi godog ini di depan meja memang lumayan lama, makanya jangan ke tempat ini kalo lagi lapar banget (kejadiannya sama seperti makan di Bobara, makanannya enak cuma emang harus sabar menunggu).
Setelah itu mbak Dewi menawarkan gelato. Waaaaa aku tak bisa menolak. Sebagai penggemar dessert dingin, meski sebetulnya perut ini sudah berteriak kekenyangan, tapi tawaran gelato ini sulit untuk ditolak. Maka kamipun bergerak menuju ke jl. Tamansiswa yang memang tidak terlalu jauh dari Bakmi Kadin.
Pilihannya buanyak banget dan rasanya unik-unik. Aku coba salah satu rasa yang konon katanya termasuk best seller, pumpkin ginger, dan masya Allah...rasanya emang enak. Paduannya pas banget. jahenya gak terlalu tajam tapi semriwing gitu, di padu dengan pumpkin atau labu yang lembut, ngecessss.. Dan karena pas kita ke Tempo Gelato sudah masuk malam minggu, ternyata suasananya sepi, mungkin akibat pandemi juga atau kurang malam (?).
Setelah dari Tempo Gelato kami meluncur ke jl. Malioboro. Penginapan di Hotel Ibis sudah disiapkan, jadi setelah berputar-putar (karena ternyata jl. Malioboro ditutup, kami harus cari jalan alternatif untuk bisa masuk ke Hotel Ibis) setelah sampai hotel langsung selonjoran dan ga ada hasrat untuk bermalam minggu di Malioboro yang penuh sesak di masa pandemi ini.
Karena gak bisa malam mingguan, jadi jam 6 pagi di hari Ahad aku jalan-jalan ke malioboro.
Ini maksudnya menunjuk ke papan pengumuman kecil, yg isinya (kalo gak salah) jangan duduk di sini. Dalam rangka social distancing. Huhuhu..mungkin teorinya begitu, karena jam 7 pagi jl. Malioboro sudah mulai rame dan artinya itu adalah waktu untuk kembali ke hotel.
Suasana di Jogja Nol Kilometer di pagi hari, masih sepi, enak dan nyaman untuk jalan-jalan, tapi jam 7 pagi aku sudah balik lagi ke hotel dan siap-siap untuk check out.
Setelah check out kami langsung meluncur ke Wonosari. Oh iya, mampir sarapan dulu di soto segarnya gus Miftah (yang baru aku tahu setelah lihat podcast-nya Deddy C dengan alm. Syekh Ali Jaber).
Di Wonosari inilah bapak dari suamiku dimakamkan. Seperti kebiasaan orang Jawa pada umumnya, ziarah dilakukan menjelang ramadhan (tapi hal ini sepertinya tidak berlaku di aku. Karena eyang-eyangku dimakamkan di Ponorogo dan seingatku aku diajak ziarah ke Ponorogo kapanpun keluargaku mau dan biasanya malah pas lebaran, sekalian mudik sekalian ziarah). Dan sebetulnya tujuan utama dari ber-weekend di Jogja ya ziarah kubur ini. Jadi aku niatkan bahwa ziarah kubur ini tak lain dan tak bukan adalah sebagai pengingat diriku bahwa suatu saat kelak aku yang akan dikubur, aku yang akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan selama di dunia. Maka sambil ziarah kubur ini aku pesan ke suami nanti seperti apa kuburan yang aku inginkan. Berusaha yang sesuai sunnah.
Setelah dari makam melipir ke pantai Baron, makan sea food dan main-main sebentar di pantai, meski aku gak ikut menyebrang pakai perahu ke arah laut. Trus setelah itu nginapnya di Hotel Alzara (ada di google map). Malam itu sodara sepupu suami datang, tapi aku udah tepar. Jadi saat yang lain keluar hotel untuk sekedar minum dan ngobrol, aku udah meringkuk tidur di kamar :)


Setelah check out dari Alzara mampir ke Kembang Sore, tempat makan yang rupanya didatangi suami dan sepupunya semalam. Aku pesan soto (kalau pagi menunya soto, kalau malam bakmi jawa) trus gorengan hitam yang ada di piring yang aku pegang itu adalah tempe gembuk (atau gembus ?) yang dibuat dari kacang koro. Trus pakai ayam goreng kampung, ada telo goreng juga, tempe kemul juga tidak ketinggalan disajikan. Makan banyak aku. Padahal pagi jam 7 aku keluar dari hotel Alzara (karena kelaparan, malam gak makan tp langsung tepar, mau cari makan, eh di jalan kampung dekat penginapan Alzara ketemu bakul kue yang kuenya murah meriah, 1000 rupiah masih dapat nagasari, 1500 dapat donat kentang).
Setelah itu kami langsung meluncur ke Jakarta, tapi mampir dulu beli bakpia Djava, trus makan siang di rest area Brebes yang bekas pabrik gula itu dan alhamdulillah sampai di Lenteng Agung jam 7 malam. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar kami langsung kembali dan jam 8 malam sudah sampai rumah lagi.
Segitu catatanku.
Comments
Post a Comment