Telpon Itu...

Begitu Nadya lahir ada kebiasaan baru yang dilakukan Papa, yaitu menelpon. Setiap hari selalu ada telpon yang bertanya tentang kabar anakku :) Maklum..waktu itu aku tinggal di Bandung dan Papa sama Mama tinggal di Surabaya. Kemudian akhirnya setelah ada video phone sering ber 3G ria untuk melihat langsung bagaimana anak-anak. Hampir tiada hari tanpa telpon. Sebagian besar dari Papa. Sesekali dari Mama, biasanya kalau mau nawarin sesuatu untuk dikirim dari Surabaya, entah itu seprei, abon, mukena, kering kentang, dll. Hmmm sayang ibu memang sepanjang masa ya. Aku yang udah setua ini memang masih jadi anak Mama. Papa telpon seringnya lewat handphone karena kami sekeluarga Papa, Mama dan 4 orang anaknya punya nomer dari 1 provider sejak dahulu kala karena dulu sepupu kami kerja di provider itu jadi sering dapat nomer cantik gratis. Kadang Papa telpon sambil nunggu meeting di kantor berlangsung, saat rehat pas sedang main tenis, pas antri ke dokter, pas makan sesuatu di luar rumah (andok bahasa okem-nya hehehe). Pokoknya segala suasana pernah dilakukan Papa sambil menelpon. Tidak heran meski jauh tapi anak-anak merasa dekat dengan eyang kung-nya meskipun eyang kung tinggal nun jauh di Surabaya. Kalau eyangnya datang berkunjung anak-anak juga cepat akrab secara suaranya hampir mereka dengarkan setiap hari :) Tetapi dari sekian banyak telpon, yang paling aku tunggu-tunggu adalah telpon saat sahur seperti di bulan ramadhan tahun ini. Karena di Surabaya waktu imsak-nya lebih awal maka biasanya sambil menunggu waktu sholat subuh Papa selalu menelpon 3 anaknya yang tinggal di bandung, depok dan jakarta (karena si bontot saat ini tinggal sama si nomer 2) untuk membangunkan sahur. Sukur-sukur kalau emang sudah bangun. Tapi aku pernah baru bangun saat Papa telpon aku (yang biasanya 30 menit sebelum waktu imsak). Dan kalau begitu cuma bisa bikin telur dadar atau telur ceplok aja.

Comments

Popular Posts