Perjalanan ke Surabaya dan Solo
Judulnya sebetulnya sih kangen sama anak gadisku.. 💖💖💖
Kemudian di pas-pas-in dengan alasan mau nganter printer (yg akhirnya gak jadi karena biaya reparasi printer mihil, mendingan beli printer yang baru hehehe), dan dengan jadwal cooking class yang sudah aku janjikan tetapi terpaksa aku batalkan (soale mas Tras saat itu mendadak harus berangkat ke Washington DC).
Dan ternyata alasan-alasan itu memang hanya sekedar alasan, karena tidak ada yang terlaksana semua alasan itu :)
Sebagai gantinya aku malah pergi ke Solo untuk menghadiri pernikahan adik sepupuku.
Kami ber-4 (aku, Nadya, Mama dan Papa) berangkat ke Solo hari Sabtu naik kereta Sancaka kelas ekonomi. Tumben naik kereta kelas ekonomi. Soalnya aku penasaran dengan kondisis kereta ekonomi. Aku baca dari keterangan mbak Endah (kakak kelas BI-88 yg sekarang jadi dosen) katanya kereta ekonomi sekarang jauh lebih nyaman daripada jaman aku dulu pas masih kuliah. Kereta kelas ekonomi memang digunakan oleh anak-anak sebagai salah satu moda transportasi kalau akan kulap (kuliah lapangan) keluar kota. Dulu kulap sering dilakukan di sekitaran Bandung saja, tapi pada tahunku untuk pertama kali kulap Biologi ke Baluran, bagian Timur dari Jawa Timur. Sekarang kulapnya malah keren-keren, sampai ke Bali, Kalimantan, Sumatera.
Keadaan di kereta Sancaka kelas ekonomi.
Posisi kursi tegak lurus, gak bisa disandarkan.
AC-nya dingin banget, sampai Papa harus pakai jaketnya.
Tragedi jaket terjadi di sini, dimana jaketnya ketinggalan di taksi dan diver taksi-nya baru datang ke stasiun pas kereta Sancaka sudah datang. Alhamdulillah semuanya lancar jaya.
Bantal pinky itu bukan dari kereta tapi kami bawa sendiri dari rumah. Alhamdulillah ternyata bermanfaat.
Di kereta ini sebetulnya barengan dengan sepupu yang lain, tapi mereka pada naik kelas eksekutif. Dan malahan mereka yang nyamperin kami di kelas ekonomi. Dan mereka juga kagum dengan kondisi kelas ekonomi yang kami tempati. Seperti biasa, narsis dulu yak. Dan 2 anak batita itu terhitung cucuku lho.
Alhamdulillah perjalanannya gak seberapa lama, jadi Mama Papa gak menderita terlalu lama duduk tegak di kereta ekonomi.
Begitu sampai di Solo Balapan jam 12 siang, mbak Ida (sepupuku yg pake jilbab meluk memeluk cucu lelakinya yg berkaos biru) langsung ngajak makan. Rencana akan makan ke mbak Diah tapi akhirnya malah ke Mbok Galak. Ah...kemana aja kalau sudah lapar gak masalah. Alhamdulillah sate buntel-nya enak, tongsengnya aku juga suka.
Setelah makan siang kami meluncur ke Mangkuyudan, silaturahim ke pak Fan (om Fanani, adiknya Papa).
Mbak Titin (sebetulnya sih tante Titin, cuma salahnya sejak kecil kami terbiasa memanggilnya mbak Titin karena pas sebelum menikah dengan Pak Fan bagi kami mbak Titin adalah mbak pramugari cantik calon istrinya om kami) sedang gak sehat, tulang kakinya retak karena menahan beban saat jatuh dari motor.
Setelah itu kami meluncur menuju ke jl. Adi Sucipto, tempat acara besok berlangsung dan tempat kami bermalam.
Kami bermalam di Lorin D'Wangsa yang ada di belakang hotel Lorin Solo.
Lobby Lorin D'Wangsa seperti ini.
Sedangkan ini adalah lobby Hotel Lorin Solo.
Hari itu rupanya Ina (anaknya mbak Ida) ulang tahun, jadi foto lagi deh di lobby Lorin Hotel (tempat mbak Ida dan keluar, mbak Ririn dengan anak-anak, dan Mami Papi nginep) yang dimana Ina membawa 2 buah slice cake hotel, dirangkul sama Papi dan Papa. Papaku emang dekat sama anak-anaknya mbak Ida ketimbang dengan Nadya, karena dalam kesehariannya mereka memang lebih sering berinteraksi, sedangkan dengan Nadya Papa hanya ketemu kalo aku ke Surabaya atau kalau Mama Papa ke Jakarta.
Bersambung ke....
Kemudian di pas-pas-in dengan alasan mau nganter printer (yg akhirnya gak jadi karena biaya reparasi printer mihil, mendingan beli printer yang baru hehehe), dan dengan jadwal cooking class yang sudah aku janjikan tetapi terpaksa aku batalkan (soale mas Tras saat itu mendadak harus berangkat ke Washington DC).
Dan ternyata alasan-alasan itu memang hanya sekedar alasan, karena tidak ada yang terlaksana semua alasan itu :)
Sebagai gantinya aku malah pergi ke Solo untuk menghadiri pernikahan adik sepupuku.
Kami ber-4 (aku, Nadya, Mama dan Papa) berangkat ke Solo hari Sabtu naik kereta Sancaka kelas ekonomi. Tumben naik kereta kelas ekonomi. Soalnya aku penasaran dengan kondisis kereta ekonomi. Aku baca dari keterangan mbak Endah (kakak kelas BI-88 yg sekarang jadi dosen) katanya kereta ekonomi sekarang jauh lebih nyaman daripada jaman aku dulu pas masih kuliah. Kereta kelas ekonomi memang digunakan oleh anak-anak sebagai salah satu moda transportasi kalau akan kulap (kuliah lapangan) keluar kota. Dulu kulap sering dilakukan di sekitaran Bandung saja, tapi pada tahunku untuk pertama kali kulap Biologi ke Baluran, bagian Timur dari Jawa Timur. Sekarang kulapnya malah keren-keren, sampai ke Bali, Kalimantan, Sumatera.
Keadaan di kereta Sancaka kelas ekonomi.
Posisi kursi tegak lurus, gak bisa disandarkan.
AC-nya dingin banget, sampai Papa harus pakai jaketnya.
Tragedi jaket terjadi di sini, dimana jaketnya ketinggalan di taksi dan diver taksi-nya baru datang ke stasiun pas kereta Sancaka sudah datang. Alhamdulillah semuanya lancar jaya.
Bantal pinky itu bukan dari kereta tapi kami bawa sendiri dari rumah. Alhamdulillah ternyata bermanfaat.
Kurisnya sudah empuk, sendiri-sendiri. Jauh lebih nyaman daripada kereta ekonomi yang aku kenal....emmm....30 tahun yang lalu :))
Gerbongnya bersih dan rapi, gak jorok dan dekil seperti kereta kelas ekonomi yang aku kenal.
Dan karena nge-charge hp adalah salah satu kebutuhan primer zaman now, jadi di setiap tempat duduk sudah disediakan colokan listrik. Kebayang bagi penggemar pop mie, bisa bawa pemanas untuk buat air panas yang dipakai untuk pop mie.
Di kereta ini sebetulnya barengan dengan sepupu yang lain, tapi mereka pada naik kelas eksekutif. Dan malahan mereka yang nyamperin kami di kelas ekonomi. Dan mereka juga kagum dengan kondisi kelas ekonomi yang kami tempati. Seperti biasa, narsis dulu yak. Dan 2 anak batita itu terhitung cucuku lho.
Alhamdulillah perjalanannya gak seberapa lama, jadi Mama Papa gak menderita terlalu lama duduk tegak di kereta ekonomi.
Begitu sampai di Solo Balapan jam 12 siang, mbak Ida (sepupuku yg pake jilbab meluk memeluk cucu lelakinya yg berkaos biru) langsung ngajak makan. Rencana akan makan ke mbak Diah tapi akhirnya malah ke Mbok Galak. Ah...kemana aja kalau sudah lapar gak masalah. Alhamdulillah sate buntel-nya enak, tongsengnya aku juga suka.
Setelah makan siang kami meluncur ke Mangkuyudan, silaturahim ke pak Fan (om Fanani, adiknya Papa).
Mbak Titin (sebetulnya sih tante Titin, cuma salahnya sejak kecil kami terbiasa memanggilnya mbak Titin karena pas sebelum menikah dengan Pak Fan bagi kami mbak Titin adalah mbak pramugari cantik calon istrinya om kami) sedang gak sehat, tulang kakinya retak karena menahan beban saat jatuh dari motor.
Setelah itu kami meluncur menuju ke jl. Adi Sucipto, tempat acara besok berlangsung dan tempat kami bermalam.
Kami bermalam di Lorin D'Wangsa yang ada di belakang hotel Lorin Solo.
Lobby Lorin D'Wangsa seperti ini.
Sedangkan ini adalah lobby Hotel Lorin Solo.
Hari itu rupanya Ina (anaknya mbak Ida) ulang tahun, jadi foto lagi deh di lobby Lorin Hotel (tempat mbak Ida dan keluar, mbak Ririn dengan anak-anak, dan Mami Papi nginep) yang dimana Ina membawa 2 buah slice cake hotel, dirangkul sama Papi dan Papa. Papaku emang dekat sama anak-anaknya mbak Ida ketimbang dengan Nadya, karena dalam kesehariannya mereka memang lebih sering berinteraksi, sedangkan dengan Nadya Papa hanya ketemu kalo aku ke Surabaya atau kalau Mama Papa ke Jakarta.
Bersambung ke....











Comments
Post a Comment