Perjalanan Singkat ke Cirebon Selama Pandemi

Alhamdulillah diajak lagi jalan ke Cirebon sama mas Tras. Perjalanan singkat juga, cuma semalam, tapi lumayanlah bisa meluruskan kaki :)

Kami berangkat jam 8.15 pagi dan begitu turun dari jalan tol layang MBZ terlihat di Gmaps peringatan ada car crash dan terjadi kemacetan sepanjang 30 menit kedepan. dan hal itu memang terjadi. 

 


Sebelum sampai pada titik kemacetan, mas Tras memang berencana untuk berhenti di KM 57 untuk nge-cek meeting yang seharusnya dia ikuti. Jadi pas di KM 57 di tengah-tengah kemacetan (yang sudah mulai jalan) kami melipir dan berhenti sejenak.





Suasana rest area KM 57 hari Selasa itu ramai luar biasa, sepeti weekend. Bahkan sewaktu aku beli snack di toko depan itu, pelayan tokonya bertanya ada apa gerangan di jalan tol, karena sejak pagi rest area ramai seperti weekend. Setelah aku jelaskan kalau ada kecelakaan dan terjadi kemacetan, sang pelayan toko jadi maklum kenapa rest aera jadi ramai sejak pagi seperti weekend.

Setelah itu jalan lagi dan sejenak berhenti untuk menyeruput kopi di KM 166.




Alhamdulillah sekitar jam 12.30 kami sampai di Hotel Apita tempat dimana acara yang harus dihadiri mas Tras berlangsung dan tempat kami bermalam.


Setelah menunggu hampir 45 menit, akhirnya dapat kamar juga. Kamarnya lumayan besar, meski sayangnya dapat kamar untuk perokok, jadi ada bau bekas rokok :(
Huhuhu, di Indonesia perokok masih jadi raja :(








Mayoritas menggunakan rotan untuk interior-nya, dan setelah jalan-jalan aku baru tahu bahwa ada sentra kerajinan rotan di sepanjang jalan utama Cirebon, selain batik dan empal gentong :)


Kamar mandinya luas, bahkan ada bath up-nya, tapi jadi spooky :)



Seperti aku tulis, banyak empal gentong di sepanjang jalan, jadi makan siangnya ya makan empal gentong lah. Agak ngejar waktu karena mas Tras harus "tampil" jam 3 sedangkan saat itu sudah jam 2 siang, akhirnya berkendara ke dekat pintu tol untuk makan empal gentong H. Apud (dan yang ternyata ke-esokan harinya kami baru tahu bahwa di jl. Tuparev ga jauh dari hotel ada juga empal gentong H.Apud)





Setelah makan siang, mas Tras langsung ke acara dan aku nunggu di dalam kamar. Gak kepingin jalan-jalan, soalnya hari itu cuaca sangat cerah (alias panas hehehe, enak ngadem di dalam kamar hotel yg sedikit baru rokok). Pas maghrib mas Tras jeda sejenak, nengokin aku, apakah aku masih hidup hahaha, trus kemudian mas Tras lanjut lagi acaranya sampai jam 8 malam.


Malam itu sempat jalan keluar sebentar untuk melihat situasi dan kondisi. Ini mau motret bulan yang terang benderang malam itu. Dan memang besoknya gerhana. Itu Apita Tower sebagai teman Bulan. Akhirnya makan empal gentong lagi tapi karena sudah malam jadi etmaptnya terbatas dan akhirnya makan seadanya yang buka aja.


Dan sebelum tidur ngopi dulu :)
Itu V60 bukan dari hotel ya, tapi bawa sendiri dari rumah, bahkan kopi-nya juga bawa dari rumah. Sengaja menggiling biji kopi sebelum berangkat, khusus untuk ngopi di Cirebon :)





Pagi harinya sarapan di hotel, trus lihat-lihat situasi hotel sebentar, termasuk ketemu kucing jinak ini. Trus setelah itu mencoba mencari tempat wisata di Cirebon, dengan syarat tidak terlalu jauh dari hotel, karena jam 11 siang kami sudah haris check out. Rencananya mau ke Mangrove, karena laut tidak jauh dari hotel, jadi asumsinya mangrove juga dekat. Cuma setelah mencoba mencari jalan masuk, ada 3 jalan masuk menuju ke kawasan mangrove yang sangat sempit, akhirnya rencana ke mangrove di drop dan pilih makan :)
Alasannya belum makan tahu gejrot di Cirebon, jadi sambil jalan lihat kiri-kanan dannnn bener kan, ketemu deh Empal Gentong H. Apud di jl. Tuparev gak jauh dari hotel :) jauh lebih dekat drpd tempat kita makan kemarin siang.






Ini nih tahu gejrotnya. Sebagai penggila tahu, aku suka banget makanan dengan bahan tahu. Tahu campur, tahu tek, apalagi tahu gejrot ini, sluurppp.

Alhamdulillah akhirnya sesuai rencana jam 11 kami check out dan meluncur kembali ke jalan tol. Jalanan lancar dan mampir sebentar di KM 62.




Dulu pas mengantar Umar (anaknya Toni dan Endri) ke pesantren, kami sempat makan di sini, tepatnya aku, mama dan papa yang makan disini, sedangkan mas Tras nemenin nadya dan ivan makan di tempat lain. Melihat menu-nya mas Tras jadi kepingin dan bercita-cita suatu saat kalau lewat jalan ini akan makan di sini. Dan inilah dia, ternata temapt makannya Rumah Makan Ibu H. Ciganea.
Di sini seperti di Rumah makan padang, semua makanan disajikan, nanti dihitung apa yang kita makan. Dan aku suka burung Maleo-nya. Mungkin karena ayam udah keseringan sedangkan kalau burung jarang, jadi terasa nikmat makan burung gorengnya. Tapi karena ukurannya besar jadi 1 ekor burung goreng dimakan ber-2.

Alhamdulillah pas adzan Ashar berkumandang kami sudah sampai rumah dengan selamat.





Comments

Popular Posts